Sejarah Singkat Slowfood

Pada tahun 1986 restoran cepat saji seperti McD masuk ke Roma Italia. Ketika itu pula para jurnalis, masyarakat dari berbagai kalangan mulai mengkritik makanan cepat saji tersebut dengan alasan menjaikan makanan tidak sehat. Sebutan paling kasar untuk makanan dengan cara cepat saji atau fast food ini adalah junk food atau makanan sampah. Sungguh miris memang sebutan tersebut dan dari sinilah makanan cepat saji (fast food) vs makanan alami (slow food). Kami menyebutnya budaya Eropa vs budaya Amerika.

 

Carlo Petrini adalah seorang jurnalis menulis dan membangun sebuah website untuk menyerukan aspirasinya dengan alamat di www.slowfood.com. Carlo Petrini sering menulis di web dengan lambang siput tersebut tentang kuliner yang ada di Roma Italia. Sungguh bertentangan sekali kuliner khas Eropa dengan kuliner khas Amerika.

 

Di Indonesia mulai tumbuh dan berkembang gerakan slowfood ini pada tahun 2009. Adalah Herlianti seorang pelopor gerakan slowfood ini. Ia membangun javara.co.id untuk mempromosikan produk-produknya berupa bahan pangan dan herbal dengan sistem slowfood. Banyak pelanggannya adalah wisatawan asing dan orang-orang Indonesia yang cinta makanan sehat dan bermutu. Herlianti disebut sebagai Chairwomen Slowfood Convivium dari Kemang. Convivium adalah sebutan bagi kelompok anggota slowfood. Sementara Chairwomen atau Chairman adalah sebutan untuk leader atau perwakilan atau bisa juga disebut ketua regional.

 

Kini sudah banyak sekali Slowfood Convivium di Indonesia salah satunya di Ubud Bali. Dan saya yakin akan ada lebih banyak lagi Slowfood Convivium di kota-kota besar di Indonesia. Di Jogjakarta ternakayamkampung.com adalah peternak ayam kampung dengan berpedoman pada nilai-nilai slowfood tersebut dalam pembudidayaan ayam kampung.

 

Nilai-nilai Slowfood

Ada tiga (3) nilai terpenting dari gerakan slowfood ini. Yaitu : 1) Good, 2) Clean, 3) Fair

1) Good

Arti good yaitu makanan atau sumber makanan sehat, bermutu, enak dan berasal dari budaya lokal. Ayam kampung adalah budaya lokal merupakan aset tak ternilai bangsa Indonesia.

2) Clean

Clean berarti bersih mulai dari cara produksi hingga pemasaran tanpa menggunakan residu dan bahan kimia. Bahan-bahan tersebut dapat mencemari lingkungan atau bahkan menimbulkan dampak negatif bagi tubuh apabila dikonsumsi. Slow food harus terbebas dari itu semua.

3) Fair

Fair berarti adil dan saling menguntungkan. Adil dan saling menguntungkan ini dimaksudkan agar produsen makanan atau bahan makanan mendapat untung namun konsumen tidak terbebani dalam mendapatkan makanan atau bahan makanan tersebut (harga standar).

 

Lawan Fast Food Dengan Slow Food

 

Pemeliharaan Ayam Kampung Sistem Slowfood

Sistem pemeliharaan ayam kampung di sebuah peternakan ayam berbeda-beda dan salah satunya adalah sistem semi intensif. Sistem semi intensif merupakan sistem pemeliharaan tepat untuk memenuhi kriteria atau kategori Slowfood. Tidak semua bahan makanan atau makanan masuk dalam kategori slowfood. Seperti bahan makanan atau makanan organik di Supermarket dijual dengan harga tinggi ini sungguh memberatkan konsumen. Sehingga nilai fair tidak termasuk dalam nilai slowfood tersebut. Dengan berdasarkan nilai-nilai slowfood di atas, kami mengembangkan ayam kampung organik dengan memperhatikan daya beli masyarakat. Dengan arti ayam kampung organik murni tidak selalu mahal.

 

Aturan Pembesaran Ayam Buras Sistem Slowfood

1. Bebas Hidup

Dengan penggunaan pemeliharaan sistem semi intensif ayam akan merasa bebas hidup kemana ia suka meski masih di dalam kandang. Kami sudah membandingkan pemeliharaan dengan cara semi intensif dengan cara intensif. Sungguh pengeluaran terbanyak ada pada sistem intensif. Berbeda dengan cara ayam kampung di kandang baterai, ayam berdesak-desakan, bahkan tidak bergerak bebas. Apakah nutrisi ayam tercukupi?

 

2. Bebas Bahan Kimia

Penggunaan bahan kimia dalam peternakan ayam dimungkinkan dapat menimbulkan masalah di kemudian hari (perlu diteliti lebih lanjut). Kami mencoba sejak pemeliharaan DOC ayam hingga penjualan tidak menggunakan bahan kimia.

 

3. Biaya produksi

Tidak sedikit resiko harus dihadapi peternak ayam kampung dalam menciptakan produk ayam kampung organik murni. Ayam diharapkan tidak terserang penyakit sampai panen dan jelas ini tidak mungkin terpenuhi 100%. Banyak biaya produksi dikeluarkan untuk pembelian obat, vaksin, vitamin, antibiotik, penanggulangan masalah kandang dll. Sebagai gantinya mari menggunakan cara tradisional yakni memakai jamu menggunakan bahan herbal asli Indonesia

 

4. Penjualan

Kami berharap nilai atau harga ayam kampung atas produk-produk kami tidak memberatkan konsumen kami di masa depan.

 

Inti ternak ayam kampung menggunakan sistem slowfood menurut kami adalah menggunakan bahan disekitar kita yakni ayam kampung, pakan, obat, dll merupakan budaya asli Indonesia. Maju terus peternakan ayam Indonesia!

 

Sadar atau tidak, pola makan kita sudah kerasukan gaya cepat saji (fast food). Hal ini mengusik hati seorang jurnalis dan pemerhati pola hidup sehat asal Italia, Carlo Petrini, yang kemudian menggalakkan gerakan Slow Food sebagai perlawanan terhadap globalisasi fast food. Bakal berhasilkah Petrini?

Fast food muncul karena tuntutan manusia sendiri, yang dalam aktivitasnya membutuhkan sesuatu yang serbacepat. Tua maupun muda, maunya serbainstan. Dalam guyonan saat memesan menu di rumah makan misalnya, si pemesan kerap melontarkan ujaran “Jangan pakai lama ya?”. Awalnya memang cuma gu­yonan, tapi lama kelamaan dianggap sebagai keharusan, baik oleh pemesan maupun pengelola rumah makan. Alhasil, kebutuhan makan menjadi hanya sekadar mengusir lapar.

Terkadang, demi ritual, sarapan dilakukan di atas kendaraan sambil bermacet ria, lalu makan siang dilaksanakan sambil meneruskan pekerjaan, sedangkan makan malam disantap sambil membaca koran atau majalah yang sepanjang hari itu belum sempat tersentuh.

Semua dilakukan karena harus mengejar waktu. Manusia modern memaknai waktu dengan uang. Time is money. Ritual makan de­ngan tenang sekeluarga sambil mengobrol santai dan mengunyah makanan hingga lumat pun semakin luntur.

Kepraktisan memang menjadi nilai plus santapan fast food. Apalah artinya fast kalau tidak praktis? Bahkan ia sudah menjadi semacam gaya hidup. Ada rasa bangga ketika orang-orang kampung yang mampir ke kota dan bisa mencicipi makanan cepat saji yang nama-nama restorannya sudah mendunia.

Namun, dibalik kepraktisan dan gengsi tadi, fast food biasanya rendah serat, kurang lengkap gizi, namun berlimpah lemak jenuh, kolesterol, gula, dan kalori. Hal ini akan membebani sistem metabolisme tubuh ketika mencerna, apalagi jika disantap terburu-buru.

Perlu Edukasi
Gerakan Slow Food sendiri tercetus tahun 1986 di Italia. Selanjutnya Petrini mendirikan organisasi Slow Food pada tahun 1989, berbarengan dengan pembukaan gerai fast food McDonald’s di Roma. Bisa ditebak, gerakan itu dimaksudkan sebagai perlawanan terhadap globalisasi fast food. Hingga saat ini, anggota Slow Food mencapai 90.000 orang, yang tersebar di seluruh dunia.

Semangat dari gerakan ini adalah untuk menyelamatkan warisan budaya makan yang asli di seluruh dunia. Jangan sampai tradisi ma­kan dan makanan tradisional di dunia musnah tergerus kepopuleran fast food. Jika dilakukan secara konsisten, dalam jangka panjang, Slow Food bahkan berpotensi memberi dampak langsung terhadap keselamatan lingkungan. Di dalam buku The Live Earth, Global War­ming Survival Handbook (Kompas 8-12-2007) tertulis, jika satu juta orang beralih ke makanan produksi lokal selama satu tahun saja, maka umat manusia akan melenyapkan 625.000 ton COr Lumayan, ‘kan?

Melalui Slow Food, Petrini mengajak kita untuk kembali pada ritme makan nan alami. Salah satunya dengan memperhatikan pola makan. Menghindari fast food dan membiasakan diri menyantap ma­kanan sehat alami dengan tidak terburu-buru, lebih lambat, dan tenang. la mengajak kita kembali ke dapur, menapak jejak ketika Ibu atau Nenek menyiapkan ma­kanan dari bahan aslinya. Sayuran, daging, dan bumbu semuanya serba alami.

Slow Food memang kontradiktif dengan zaman kini yang serba cepat. Gregory Ernoult, pemimpin gerakan Slow Food Indonesia yang didirikan pada September 2006 pun memahami hal itu. Diakuinya, “Tidak mudah mendidik masyarakat yang sudah terpengaruh globalisasi untuk memahami gerakan Slow Food ini, dan perlu edukasi yang panjang.” Padahal, ketika sudah telanjur kegemukan, kita akan digempur lagi dengan makanan ser­ba diet kalori. “Kita memiliki hak dan kemampuan untuk mendapatkan makanan yang baik dan sehat yang akan kita makan,” ucap Gregory, yang sudah tujuh tahun menetap di Indonesia ini mantap.

Untuk itu, perlu penyadaran kembali dan pendidikan sejak dini un­tuk membangkitkan cita rasa. Contoh kecilnya, lokalatih kecil-kecilan untuk membedakan cita rasa sirup jeruk dengan perasan jeruk asli, termasuk membedakan aroma jeruk organik dan yang bukan organik. Menurut Gregory yang asal Prancis, di negeri asalnya, kegiatan seperti ini sudah dilakukan sejak taman kanak-kanak.

Keseimbangan alam terancam
Serba lambat di jalur cepat tadi, sesungguhnya tak sekadar gerakan untuk melawan gaya makan serbacepat. Tapi juga mengajak kita untuk memaknai hidup, merasakan prosesnya. Ma­kan dengan tempo lambat membantu proses pencernaan tubuh dalam hal penyerapan nutrisi. Proses pencernaan pun berjalan secara bertahap, tidak terburu-buru sehingga penyerapan nutrisinya bisa berjalan maksimal. Selaras dengan ritme alamiah tubuh. Kegiatan memasak ala Ibu atau Nenek yang tidak terburu-buru dan dihayati juga bagian dari rekreasi dan rileksasi.

Pola makan berbasis lokal ini akan menghindarkan sistem pertanian dari eksploitasi besar-besaran. Bayangkan jika seluruh dunia ini menu makanannya fast food. Pola makan yang seragam akibat membanjirnya franchise fast food di se­luruh dunia akan mengkhawatirkan. Bukan hanya karena berakibat buruk terhadap kesehatan, tetapi juga mengancam keseimbangan alam.

Menjamurnya gerai fast food di seluruh dunia memaksa dunia menerapkan sistem pertanian monokultur. Tanaman yang ada akan seragam, sesuai dengan permintaan industri fast food, seperti ayam broiler dan gandum. Flora dan fauna lokal bisa-bisa terpinggirkan. Ayam kampung, beras cianjur, atau beras rojolele bisa jadi hanya akan menjadi cerita di kalangan generasi penerus.

Gerakan Slow Food memiliki impian bahwa suatu saat tanaman dan ternak konsumsi akan diproduksi secara alamiah, tidak ter­buru-buru dan dalam jumlah besar demi pasar. Pestisida, hormon, antiobiotik, dan obat-obatan sintetis pun disingkirkan. Dengan sendirinya, keseimbangan alam akan terjaga, karena makhluk yang hidup di sekitar ekosistem pertani­an tidak terbunuh.

Slow Food pun menempatkan kebersamaan dalam menikmati ma­kan karena tidak terburu-buru. Tak soal apakah Anda penganut food combining atau vegetarian. Yang terpenting nikmati dan nikmati.

Slow Food dan Keanekaragaman Hayati
Industri fast food menyeragamkan semua produknya di seluruh dunia. Untuk mendukung itu diperlukan  bahan  baku yang seragam juga. Ayam goreng. fried chicken misalnya,  berasal dari ayam ras atau  broiler. Agar cepat besar,  ayam  ras diberi  pakan berupa formula  khusus,  suntikan hormon,  dan  antibiotik.  Contoh  lain, industri  fast food berbahan tepung terigu seperti  roti  dan donat juga akan  menyingkirkan  makanari lokal seperti gethuk atau tiwul.

Yang perlu  diwaspadai  dari  perkembangan  industri   fast food adalah  penggunaan  pupuk dan  pestisida sintetis.  Selain  membahayakan kesehatan  manusia, tindakan  ini ikut mengancam  ekosistem alam, karena  berisiko memutus rantai makanan yang ada  pada ekosistem pertanian,  seperti  cacing,  kodok, dan  serangga.

Teknologi  paling mutakhir bahkan sudah  menggunakan  bibit hasil  rekayasa genetika atau transgenik demi  mengejar produksi  secara cepat dan  masal.  Padahal,  akibat  buruk kebiasaan  mengonsumsi  makanan transgenik terhadap kesehatan belum tuntas diteliti  dan  baru diketahui  setelah evolusi  atau bergantinya generasi.

Mari Makan Ala Slow Food
Berikut  ini  cara  makan sehat menurut anjuran gerakan Slow  Food:
1.  Utamakan  bahan  makanan segar.
Dapatkan  makanan segar langsung dari  petani atau berbelanja di  pasar tradisional. Pasar tradisional  merupakan jalur distribusi terpendek ma­kanan  segar. Yang diperlukan tubuh kita adalah makanan segar yang baru dipanen atau belum lama dipanen. Sayuran kemarin tidak akan dijual di pasar tradisional,  karena tak ada  lemari  pendingin  untuk menyimpan sayuran agar tetap segar.

Di  supermarket, sangat besar kemungkinan  sayuran segar yang Anda  beli  sudah dipanen  beberapa  hari  atau bahkan seminggu sebelumnya, sehingga  kandungan  nutrisi dan energinya telah  banyak menyusut. Begitu  pula daging dan  ikan  segar,  belilah  di  pasar tradisional. Namun, tetap harus teliti dan waspada terhadap formalin dan zat pewarna makanan.

2. Ganti bumbu instan dan MSG dengan bahan-bahan seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombai, daun bawang, seledri, jahe, merica, dan minyak wijen.

3.  Sediakan bumbu instan segar dan alami. Caranya bekukan ulekan bumbu dalam ice tray atau  kantong plastik, sehingga Anda tinggal menggunakannya sesuai keperluan, tanpa repot harus mengupas dan mengulek dulu. Jadi, tak perlu menggunakan bumbu instan kemasan.

“Peluru terpedo memakai besi, enggak perlu gengsi, makan gado-gado memakai dasi.”

Kampanye Makanan Lokal, Ayam pun Harus Bahagia
Upaya melawan efek buruk makanan cepat saji atau fast food terus menguat. Namanya gerakan Slow Food. Berawal dari Italia, gerakan itu kini sudah menyebar hingga 150 negara. Di Indonesia, salah seorang penggeraknya adalah Helianti Hilman.

Pada 1980-an, gerai-gerai restoran fast food dari Amerika Serikat (AS) menyerbu Eropa. Salah satunya McDonald’s. Restoran dengan produk utama hamburger itu masuk ke Roma, ibu kota Italia, pada 1986. Ketika itu, beberapa kalangan mulai mengkritisi globalisasi fast food yang dituding menyajikan makanan tidak sehat. Bahkan pada perkembangannya, sebagian orang menyebut fast food dengan istilah junk food atau makanan sampah.

Adalah Carlo Petrini yang waktu itu bersuara lantang menentang masuknya McDonald’s di Italia. Dia merupakan seorang jurnalis dan kolumnis berpengaruh yang biasa menulis artikel tentang kuliner di beberapa media Italia.

Aksi Petrini itu, rupanya, menarik perhatian publik Eropa. Karena itu, pada 1989, dia bersama puluhan orang dari 15 negara berkumpul di Paris, Prancis, lalu memproklamasikan gerakan Slow Food International. Lambangnya unik, keong atau siput berwarna merah. Keong itu digunakan sebagai representasi makhluk yang bergerak slow atau pelan.

Sejak itu, gerakan tersebut terus meluas di berbagai belahan dunia. Masyarakat di negara-negara maju di Eropa dan AS yang memiliki kesadaran tinggi tentang kesehatan makanan menjadi pelopornya. Kini gerakan Slow Food sudah menyebar tidak hanya di negara maju, tapi juga di negara berkembang bahkan hingga negara-negara miskin di Afrika. Total, sudah ada lebih dari 100 ribu anggota yang tersebar di 150 negara. Atas gerakan revolusionernya dalam bidang pangan itu, majalah TIME memasukkan Carlo Petrini dalam jajaran Heroes of The Year 2004.

“Di Indonesia, gerakan Slow Food juga mulai tumbuh. Awalnya dipelopori para ekspatriat (orang asing yang tinggal di Indonesia, Red), tapi kini sudah makin banyak warga sendiri yang bergabung. Ini sangat positif,” ujar Helianti Hilman kepada Jawa Pos (grup Radar Lampung) di counter-nya, kawasan Kemang, Sabtu (20/10).

Helianti merupakan salah seorang pelopor gerakan Slow Food di Indonesia. Kini dia menjadi chairwoman Slow Food Convivium Kemang. Organisasi Slow Food memang terdiri atas kelompok-kelompok lokal yang disebut convivium yang dipimpin seorang chairman atau chairwoman. Karena itu, dalam satu negara bisa terdapat beberapa convivium yang masing-masing langsung menginduk pada organisasi pusat Slow Food International di Kota Bra, Italia.

Ibu seorang putra itu menyebutkan, Slow Food kali pertama didirikan di Indonesia pada 2006 oleh Gregory Ernoult, seorang ekspatriat yang berprofesi sebagai chef atau koki. Ketika itu, Ernoult yang berdomisili di kompleks Lippo Karawaci, Tangerang, mendirikan Slow Food Convivium Karawaci. Namun, perkumpulan itu tidak berlanjut karena Ernoult pindah ke Singapura.

Peraih gelar master di bidang hukum dari King’s College, London, Inggris, yang kini menekuni profesi sebagai konsultan dan pengusaha di bidang produk pangan itu mulai tertarik dengan gerakan Slow Food pada 2010. Sejak itu, dia langsung mendaftarkan diri sebagai anggota Slow Food International. Baru pada awal 2012, Helianti membentuk Slow Food Convivium Kemang.

Nilai-nilai Slow Food ini sejalan dengan bisnis saya di Javara,” ungkap perempuan kelahiran Jember, Jawa Timur, 1971, itu.

Javara adalah perusahaan dalam bidang pengembangan bahan pangan yang didirikan Helianti.

Selain Slow Food Convivium Kemang yang dipimpin Helianti, kini ada Slow Food Convivium Ubud yang beranggota para ekspatriat yang tinggal di Bali dan Slow Food Convivium Depok. Total anggota komunitas itu sudah mendekati 100 orang.

Latar belakang mereka beragam. Ada pengusaha, karyawan, aktivis lingkungan, chef, guru, jurnalis, hingga ibu rumah tangga. “Dalam Slow Food, yang utama adalah kualitas anggota, bukan kuantitas. Jadi, semua adalah anggota aktif, tidak ada anggota pasif,” sebutnya.

Helianti mengatakan, gerakan Slow Food bertumpu pada tiga nilai. Yakni good, clean, dan fair. Good berarti makanan itu terasa enak dan segar serta merupakan bagian dari budaya lokal. Clean bermakna makanan itu diproduksi tanpa menggunakan bahan-bahan kimia yang mencemari lingkungan. Fair berarti harus ada keadilan dalam proses produksi atau cara mendapatkan makanan itu.

“Semua anggota komunitas Slow Food harus berupaya semaksimal mungkin untuk hanya memakan makanan yang memenuhi tiga nilai itu,” tegasnya.

Apa bedanya dari makanan organik? Menurut Helianti, makanan yang masuk kategori Slow Food sudah pasti organik karena tidak menggunakan bahan kimia seperti pupuk kimia atau pestisida. Namun, tidak semua makanan organik masuk kategori Slow Food karena harus juga memenuhi konsep fair.

Konsep fair dalam gerakan Slow Food diterjemahkan sebagai keadilan untuk semua. Pertama, keadilan untuk konsumen dan produsen. Artinya, dari sisi harga, bahan pangan tidak boleh dijual terlalu mahal sehingga memberatkan konsumen, namun juga tidak boleh terlalu murah karena bisa mematikan usaha produsen atau petani.

Kedua, konsep yang cukup unik, yakni keadilan untuk binatang yang akan dimakan. Karena itu, anggota gerakan Slow Food sangat anti-makanan dari daging ayam broiler. Menurut Helianti, peternakan ayam broiler merupakan contoh buruk perlakuan manusia terhadap binatang ternak.

“Bayangkan, ayam-ayam itu hidup berdesak-desakan dalam kandang yang sangat sempit, tak bisa bergerak, disuntik hormon penggemuk dan estrogen perangsang telur serta antibiotik. Sungguh tidak berperikebinatangan. Karena itu, komunitas Slow Food sangat against (melawan/anti, Red) dengan peternakan semacam itu,” ujarnya dengan mimik wajah serius, dua tangannya terkepal erat pertanda gemas.

Di negara-negara lain, komunitas Slow Food hanya memakan daging binatang yang diternak secara baik, termasuk tidak diberi makanan yang mengandung bahan kimia. Di Indonesia, kata Helianti, contoh pilihannya adalah ayam kampung.

“Kalau ayam kampung kan hidupnya bebas, bisa kelayapan ke mana-mana, makanannya juga alami. Paling tidak, hidup mereka lebih bahagia daripada ayam broiler. Karena itu, dalam Slow Food ada istilah happy animal, kami hanya memakan binatang yang hidupnya bahagia,” ujarnya, lantas tersenyum lebar.

Helianti mengakui, aturan-aturan dalam komunitas Slow Food cukup ketat. Karena itu, meski tidak ada sanksi tertulis, setiap anggota dituntut berkomitmen penuh dan semaksimal mungkin menjalankan konsep yang sudah disepakati.

“Yang saya tahu, anggota komunitas adalah orang-orang yang punya pandangan atau ide yang sejalan dengan nilai-nilai Slow Food. Jadi, kami tidak merasa berat menjalankannya,” tegasnya.

Selain itu, anggota Slow Food di negara berkembang wajib membayar iuran EUR5 atau sekitar Rp70 ribu per tahun. Di negara maju, iurannya bisa sampai EUR70 per tahun.

Helianti menyebutkan, salah satu kendala yang dihadapi komunitas Slow Food adalah tidak mudahnya mendapat makanan yang memenuhi konsep good, clean, dan fair. Di kota besar seperti Jakarta memang terdapat beberapa supermarket yang khusus menjual bahan pangan organik. Namun, harganya relatif lebih tinggi. “Jadi, opsinya adalah menanam sendiri,” ucapnya.

Karena itu, Helianti menegaskan bahwa Slow Food bukanlah komunitas yang hanya bisa diikuti orang kaya. Buktinya, di negara-negara Afrika, banyak anggota Slow Food yang justru masyarakat miskin yang hidupnya dibantu dan diberdayakan untuk berkebun atau beternak sesuai dengan nilai-nilai Slow Food.

Lalu, apa yang sudah dilakukan komunitas Slow Food? Menurut Helianti, di tingkat internasional, ada ajang tahunan bernama Terra Madre. Pada 23–28 Oktober 2012, Helianti bersama beberapa anggota dan petani lokal menghadiri acara itu di Italia.

Dalam acara itu, program-program Slow Food dari seluruh dunia dipaparkan agar peserta dari berbagai negara bisa mencontoh. “Terra Madre juga menjadi ajang penghargaan bagi para petani lokal dari berbagai negara,” ungkapnya.

Helianti menambahkan, Slow Food mewajibkan anggotanya di seluruh dunia untuk melakukan kegiatan perorangan atau kelompok, minimal tiga kali dalam setahun. Misalnya, food and taste education melalui pengenalan rasa bahan pangan lokal kepada anak usia TK atau SD. Melalui kegiatan itu, anak-anak diajari untuk membedakan wujud dan rasa makanan alami maupun yang mengandung zat kimia serta bahayanya.

Kegiatan lain yang dilakukan Helianti adalah kampanye One Thousand Food Gardens. Caranya, mendorong dan mengajari ibu-ibu rumah tangga untuk menanam sendiri tanaman bahan pangan di rumahnya. Konsep itu diadaptasi dari gerakan yang sukses besar di Afrika.

Program lain yang dijalankan Slow Food adalah protecting food biodiversity atau melindungi keanekaragaman hayati bahan pangan. Di Indonesia, kata Helianti, hal itu merupakan tantangan berat karena makin sedikit orang Indonesia yang peduli terhadap keanekaragaman sumber makanan.

Misalnya, sangat banyak tanaman berkhasiat tinggi yang sudah jarang dikenal orang. Misalnya, kelor. Padahal, lanjut dia, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kandungan protein kelor lebih tinggi dari daging, kalsiumnya lebih tinggi dari susu, vitamin A-nya lebih tinggi dari wortel, vitamin C-nya lebih tinggi dari jeruk, potasiumnya lebih tinggi dari pisang, dan zat besinya lebih tinggi dari bayam.

“Orang-orang tua zaman dulu juga mengakui kehebatan kelor, makanya dipakai untuk memandikan jenazah, digunakan untuk menangkal santet, melepas susuk, dan lain-lain,” ujarnya.

Helianti mengakui, kini justru orang-orang asing yang memiliki minat tinggi terhadap produk-produk lokal Indonesia. “Mereka banyak menghargai keanekaragaman pangan Indonesia. Kita yang orang Indonesia malah kurang,” tuturnya.

Di Javara, perusahaan yang didirikan Helianti, konsumen terbesarnya justru orang-orang asing. Ketika Jawa Pos berkunjung ke kantor Javara di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, ada beberapa ekspatriat asal Italia yang tengah memborong produk-produk Javara.

Javara adalah perusahaan yang bergerak di bidang pangan lokal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Jawa, Sumatera, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur. Ada beras, tepung dari sukun, ubi ungu, singkong, ganyong, garut, gula nila kelapa, madu, garam, rempah-rempah, hingga kacang mede (cashew nut).

Misalnya, garam kusamba yang berbentuk piramida dari Klungkung, Bali, yang hampir punah kini justru sudah diekspor ke Italia, Swiss, Belgia, Inggris, serta dalam waktu dekat masuk pasar AS dan Jepang. Tak tanggung-tanggung, department store papan atas sekelas Globus di Swiss pun sudah berhasil ditembus. Sebuah jaringan produk makanan di Belgia juga siap memasarkan produk lokal Indonesia itu ke 2.000 supermarket di Eropa.

Helianti menyebutkan, eksotisme produk-produk lokal Indonesia kini makin banyak diminati. Tahun ini, Javara mengekspor 10 kontainer produk lokal Indonesia ke berbagai negara. “Tahun depan, target kami 24 kontainer karena permintaan terus meningkat,” ungkapnya. (p6/c2/ary)

 

Demikian tulisan diatas diambil dari berbagai sumber kami sampaikan untuk menambah wawasan bagi anggota keluarga kami khususnya dan secara umum masyarakat Indonesia.

Nilai-2 dari slowfood sangat berkaitan sekali dengan misi dan fisi usaha kami dibidang agrobisnis, nilai-2 :

1) Good

Arti good yaitu makanan atau sumber makanan sehat, bermutu, enak dan berasal dari budaya lokal. Ayam kampung adalah budaya lokal merupakan aset tak ternilai bangsa Indonesia.

Kedelai lokal sangat baik mutunya untuk membuat tempe, pada jaman saya masih kecil dulu tempe yang digoreng oleh ibu sangat gurih dan nikmat rasanya.

Ubi-2 an dilahan-lahan bapak tani sangat banyak sekali dan khasiatnya sangat hebat apabila kita konsumsi dari pada makan makanan PIZA atau yang sebangsanya.

 

2) Clean

Clean berarti bersih mulai dari cara produksi hingga pemasaran tanpa menggunakan residu dan bahan kimia. Bahan-bahan tersebut dapat mencemari lingkungan atau bahkan menimbulkan dampak negatif bagi tubuh apabila dikonsumsi. Slow food harus terbebas dari itu semua.

Maka dari itu produksi produksi pertanian diusahakan tanpa pestisida sintesis dan menggunakan pupuk kimia berangsur-angsur dikurangi hingga tidak menggunakan sama sekali apabila unsur hara yang diperlukan oleh tanaman telah mencukupi.

Tanaman herbal sangat beragam mungkin china saja yang dapat menyaingi kita, sehingga kita tidak perlu mengkonsumsi obat-2 an kimia yang isinya merupakan racun.

Apabila kita mengikuti jejak leluhur dengan ramuan herbal bangsa kita akan menjadi bangsa yang besar, bangsa yang sehat lahir batinnya.

Bukan hanya manusianya yang sehat, tanaman, hewan juga bisa diatasi dengan ramuan herbal, contoh rekan kita Ermina Kemala Dara ( EKD ) telah membantu kita produk-2nya untuk kembali ke kearifan local.sangat mujarab.

Tetapi kalau kita tidak segera berubah ke arah organic salah satu item dari slowfood, makan makanan jump food / makanan sampah, minum obat racun akhirnya kita menjadi tergantung pada obat-2an kimia yang makin lama makin mahal dan menghancurkan system imunitas seperti halnya Lahan kita yang sudah sangat hancur kesuburannya

Rumah sakit kian lama kian banyak dan besar-2 dan kita mempunyai andil membangunnya karena makin lama jenis penyakit kian bertambah banyak, para tenaga medis yang melayani kesehatan bertambah banyak sekolah-2 medis dibangun besar-2 an dan dikatakan hal itu untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah penduduk, akan tetapi apabila bertambahnya jumlah penduduk dibarengi dengan kwalitas kesehatannya tidak akan sampai demikian booming keberadaan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan.

Kenapa kita tidak berfikir untuk mengusahakan jadi keluarga sehat yang akan berdampak menjadi bangsa yang sehat, contoh aplikasinya

Lebih baik kita makan ayam goreng kampung dari pada makan fried chicken, lebih baik makan tempe dari kedelai lokal dari pada kedelai import, lebih baik makan sayur-2 an yang organic dari pada sayur yang menggunakan pestisida dan meniadakan makan makanan yang mengandung bahan pengawet berbahaya, awasi keluarga kita jangan gengsi makan makanan nDeso, kalau sudah ada acara yang dituju adalah PIZZA HUT atau makanan-2 Fast Food lainnya.

 

 

3) Fair

Fair berarti adil dan saling menguntungkan. Adil dan saling menguntungkan ini dimaksudkan agar produsen makanan atau bahan makanan mendapat untung namun konsumen tidak terbebani dalam mendapatkan makanan atau bahan makanan tersebut (harga standar).1.

Hal ini sangat berkaitan dengan kesejahteraan masing-2 yang berkepentingan : petani /produsen menjual hasil produksinya seperti tertera diatas dalam batas wajar diatas dari nilai pengobanan yang dilakukan sehingga ada nilai margin untuk kesejahteraannya  sedang konsumen juga sepakat membeli secara wajar pula sehingga terjadi suatu kesepakatan tidak tertulis tetapi tersirat secara moral dan ini mengakibatkan harga tidak akan dikendalikan oleh para makelar dan harga akan  stabil, makan organic tidak mahal, yang mahal adalah sertifikasinya.

Dipersilahkan para konsumen melihat sendiri proses produksi makanan sehat sehingga mengetahui secara langsung dan inilah yang akan menjadi embrio makan sehat tetapi terjangkau masyarakat kecil menengah dan besarpun bisa menikmati

Demikian sedikit ulasan kami semoga bisa menjadi panduan buat kita untuk menuju hidup sehat dengan melakukan Standart Operasional Prosedur dari SLOW FOOD.

Diambil dari beberapa sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s